Wednesday, September 19, 2012

Tuesday, September 18, 2012

Tak Sekedar Cerpen

Hari ini, Rabu 18 September 2012 sekitar pukul 09.30 WIB, aku sibuk menggambar, menuangkan imajinasi di tengah penjelasan dosenku, seorang Profesor pada bidang hidrodinamika, seorang kepala jurusan, dan juga seorang dosen waliku. Aku menggambar bukan karena tak tertarik, tapi karena aku begitu terbawa suasana, penjelasan yang beliau sampaikan begitu runtut sehingga terasa sederhana, terkadang beliau sisipkan sedikit cerita tentang dunia kerja di bidang perkapalan, hal yang jelas menarik bagiku, dunia kerja rasanya akan sangat menantang, itulah yang ada di fikiranku saat ini. Meskipun suara Sang Professor sedikit terlalu kecil mungkin akan mengurangi semangat sekitar 40 anak lainnya di kelas, tapi itu tak jadi penghalang buatku berimajinasi, entahlah begitu tertariknya aku hingga rasanya indera-inderaku menjadi lebih peka, hingga suara Sang Professor dapat aku dengar dengan jelas, selain itu penjelasannya yang runtut membuatku merasa tak perlu berfikir banyak dan imajinasiku mulai menggoda, dengan mudahnya kuturuti kemana ia pergi. Goresan pena telah berubah menjadi sebuah sketsa kapal, kapal non-konvensional begitulah aku menyebutnya, gambar ini merupakan perlambang harapanku, ya semacam itulah, sekarang imajinasiku membawaku pergi ke tempat lain, angan-anganku tentang seseorang.

Seseorang yang telah menginspirasi langkahku, seseorang yang kurindukan, masih teringat jelas kata-katanya "aku ingin pergi ke Inggris" yang lalu kujawab sambil tersenyum "kalau begitu mulai hari ini aku tetapkan bahwa kita akan pergi ke Inggris!" dan seraya tersenyum ia mengamininya "AAMIIN" entahlah senyumannya membuatku bersemangat, kurasakan energi hangat dan optimisme dengan hanya menatap matanya. Namanya Tyas, seorang wanita sederhana, cerdas, berkacamata, tomboy namun anggun, sosok yang begitu menginspirasiku, mungkin ia orang yang paling berpengaruh di hidupku. Aku akan senang bila mampu membuat ia senang. Mengingat hal itu senyumpun mengembang di bibirku, di tengah lamunanku, tiba-tiba suara kecil menyadarkanku "baiklah anak-anak Bapak rasa cukup sekian materi hari ini, jangan lupa untuk membaca buku panduan kalian di rumah ya, selamat siang" dan setelah menjawab salam dari Sang Professor semua anak bergegas untuk keluar kelas. aku memilih untuk tidak tergesa-gesa, karena hari ini aku akan bertemu dengan Tyas, ia pasti telah menunggu di depan kelas, tentu saja karena kami tak mengambil kelas yang sama, lebih tepatnya kami tidak dari jurusan yang sama. Aku ingin keluar dari kelas dengan tenang, dengan elegan, agar aku dapat terlihat tampan, setidaknya bagi Tyas, aku tak mau terlihat terburu-buru, aku ingin sedikit jaim kali ini. Setelah kelas mulai sepi akupun merapikan buku-ku dan kemudian melangkah keluar kelas.

Tepat saat aku melangkahkan kaki keluar kelas disana telah kulihat Tyas berdiri menantiku, ia tersenyum melihatku, dengan santai kubalas senyumnya. "Jadi mau kemana kita hari ini?" tanyanya singkat memulai pembicaraan, "gimana kalo kita ke Perpus aja?" jawabku, "hmm bukan ide buruk, lagian hari ini panas, AC di perpus mungkin bisa membantu" katanya sambil tersenyum, langkahku tiba-tiba terasa ringan, kami pun berjalan beriringan menuju perpus yang hanya berjarak 200 meter dari ruang kuliahku, melewati lorong yang disampingnya terdapat taman, rasanya lorong ini tiba-tiba menjadi milik kami berdua, setidaknya itulah yang ada di fikiranku, detik-detik yang indah terasa begitu cepat, tiba-tiba kami sudah di depan pintu perpustakaan, bangunan bercat biru yang berdiri kokoh dengan 6 lantai dan segala fasilitas serta buku-buku didalamnya selalu mampu membuatku tertarik untuk selalu datang kembali. Kamipun menyimpan tas kami di locker dan mulai berjalan ke lantai 3, ruang majalah, ruangan favoritku, aku membawa laptop, dan Tyas berjalan di sampingku.

Begitu sampai kami mulai mencari tempat duduk dan kemudian mencari bahan bacaan. kebahagiaan begitu sederhana rupanya hari ini, berada di sisinya saja sudah membuatku begitu senang. kutatap lekat-lekat dirinya, gerak-geriknya, seolah tak ingin sedikitpun ada hal yang terlewat darinya, aku ingin mengabadikan tiap momen ini. "Kamu ngapain sih ngeliatin aku? tuh majalah baca, laptop juga malah dianggurin, huu" celotehnya jahil, aku salah tingkah dan mulai memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaannya, wajahku memerah, ia menangkap basah aku memandangi dirinya, aah sial! "hmm gapapa kok lucu aja liat kamu daritadi senyum-senyum terus, lagi seneng yaa?" jawabku seolah tak terjadi apa-apa, "iih muka kamu merah tuh! haha hayoh malu yaa ketauan liatin aku!" potongnya sambil menggodaku dengan gaya sok imut, aah aku tak tahu harus bagaimana, maksudku ini bukan percakapan biasa, kami hanya teman, tapi tidak sesederhana itu juga, aku harus benar-benar mempertimbangkan tiap perkataanku agar ia merasa nyaman, tidak terlalu jauh namun juga tidak terlalu dekat. "ah kamu belum jawab! kamu kok senyum-senyum terus sih? lagi seneng ya?" jawabku lagi mencoba mengalihkan arah pembicaraan. "Iya aku lagi seneng, kita hari ini jalan-jalan berdua ke perpus soalnya! hahaha" jawabnya enteng dengan tawa renyah. Entah semua itu kata-kata yang polos apa adanya entah itu kata-kata yang ia gunakan untuk menggodaku, yang jelas kata-katanya ini begitu melambungkanku, suasanapun mencair. Kami mulai membicarakan banyak hal.

"Jujur saja sebenarnya aku sangat menyukai Tyas, ia pun telah mengetahui itu, dan aku yakin sekali bahwa perasaanku berbalas! bila tidak, kenapa ia mau menemaniku?  tidak hanya kali ini, kami pernah berjalan-jalan, nonton bioskop, makan bareng, ayolah semua itu sudah cukup bukti kan?" batinku dalam hati, tapi hubungan kami memang unik, aku tak tahu sebenarnya apa yang kami lakukan, kami berdua tidak pacaran dan juga sepakat untuk tidak pacaran, jadi apa yang kami lakukan? saling menuggu? atau hanya saling bermain-main dengan perasaan? oh itu buruk! kamu tidak boleh mempermainkan perasaan orang lain! tapi entahlah semua ini karena hubungan kami bukanlah hubungan yang biasa, aku tak mampu menjelaskannya. Tapi hari ini sedikit berbeda, kami berbicara banyak hal, tentang kelas yang kami ambil, tentang film yang kami suka, tentang mimpi dan harapan, bahkan kami sempat menonton film di laptopku, kami juga sempat bermain-main dan bercanda seperti sepasang kekasih, hari ini kami lebih dekat dari biasanya, aku mampu merasakannya, aku menikmatinya, ketika kami saling bicara kami seolah benar-benar saling memahami, saling mengerti, dan menganggap semua yang kami bicarakan adalah penting hingga hal-hal yang detail, ketika menonton film kami seperti sepasang kekasih yang baru saja mulai mengenal satu sama lainnya dan belum tahu bagaimana cara berinteraksi yang nyaman bagi satu sama lain, ketika saling bercanda dan bermain-main kami seperti sepasang kekasih yang tengah melepas rindu setelah lama tak berjumpa, ketika kami membicarakan mimpi kami seolah sedang menyusun skenario besar bagi "kehidupan kami" nantinya. Ayolah semua ini benar-benar aneh, terasa terlalu indah, dan dalam kondisi yang tak lazim. Maksudku, aku bukan siapa-siapanya, tapi kejadian hari ini jelas tak bisa membuatku menyetujui pernyataan itu. Aku hanya ingin menjalaninya, menikmati tiap detik dari perjalanan ini, aku hanya ingin mengulanginya dan tak pernah merasa bosan karenanya. Aku menikmatinya.

Senyumpun mengembang di wajahku, terasa sebuah kedamaian dalam hati, seolah aku mampu menghadapi dunia, seolah aku bisa menjadi apapun yang aku mau, aku tersenyum dan bahagia, kutatap Tyas, ia tersenyum, lalu kudekatkan tanganku ke pipinya, ingin kusentuh pipinya, namun ia pasti akan merasa janggal, dan akupun akan merasa sangat malu, lagipula aku tak mau hal sekecil itu merusak suasana ini, maka kuputuskan untuk mencubit pipinya, ini akan lebih terlihat sebagai bentuk keusilan daripada ungkapan sayang, tak apa, aku hanya ingin melakukannya, tak perlu ia mengetahui secara harafiah, aku tahu! jauh didalam hatinya aku mengetahui bahwa ia merasakan berjuta sayang yang kuberikan padanya, tak usahlah ia menjadi kasihku, aku cukup nyaman dengan kondisi kami saat ini, senyumku bertambah lebar, pipiku memerah, kulihat pipinya pun memerah , ia tak melawan saat kucubit pipinya, hanya senyum kecil dari bibirnya yang manis menambah perasaan bahagia yang kini kurasakan di dalam hati kecilku. Lalu ia menghilang, perlahan namun pasti, ia begitu saja lepas, aku tak dapat menyentuhnya, bagai pasir yang tertiup angin ia menghilang! oh apa yang terjadi? Tyas kemana kau pergi? tanganku yang tadi di pipinya kini hampa, tak kurasakan apa-apa, aku begitu sedih, namun kemudian aku tersenyum. Rupanya ia datang lagi, sebuah khayalan yang terasa begitu nyata, sebuah fatamorgana, akupun hanya tersenyum getir. "Apa yang terjadi padaku? aku begitu merindukannya hingga kurasa hal yang seharusnya tak ada! ia bahkan tak  nyata, ia tak ada disini! jelas sekali!" Tyas tak mungkin ada disini, aku hidup dalam dunia khayalku, sejak kapan ia berkuliah disini? entahlah, ia hanya suatu bentuk, suatu hal, suatu sosok yang aku rindu, kini ia hilang dari pandanganku, yang kusadari semua ini adalah bentuk rasa rinduku, namun aku tahu satu hal pasti, saat ku pulang nanti kan kutemui dirimu Tyas, kan kupastikan itu, lalu kita kan kembali bercanda, lebih indah dari yang telah kita lakukan tadi. "Karena aku yakin Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk kita" tak sekedar cerpen, akupun membuka halaman baru majalah yang tadi kubaca.

__TAMAT__


Sunday, September 9, 2012

Pencerahan Politik

Bersyukurlah kita hidup di zaman yang serba ada, dimana kita bisa mengakses ilmu pengetahuan sebebas-bebasnya. kali ini saya ingin menyampaikan kisah saya tentang pencerahan politik saya, entahlah mungkin hanya tambahan atau suatu fase dalam hidup saya yang didalamnya mulai timbul kesadaran akan apa itu politik dan kesadaran untuk berpolitik.

Saya yang hidup di lingkungan agamis, pada mulanya menganggap bahwa pandangan politik saya adalah muslim fundamentalis. nuansa politik begitu kental di keluarga saya, karena Ayah saya adalah seorang Dosen yang sedikit banyak memiliki spesialisasi dan pengaruh yang berkaitan dengan bidang itu, tapi saat itu saya hanya seorang anak kecil, kemudian seiring perjalanannya saya menyatakan diri sebagai nasionali. Yang inspirasinya sederhana saja, yaitu arak-arakan 17 agustus di kampung halaman saya, dengan kondisi masyarakat yang bagi saya sangat indah, hal itu begitu menarik hati saya. pandangan pun kembali berubah, beranjak dewasa spirit Nasionalisme di masyarakat agaknya memudar dan berganti dengan isu kemiskinan, kelaparan, dan terorisme. Tentunya ini bukan suasana yang ideal bagi seorang nasionalis yang tertarik pada bidang agama seperti saya.

Satu benang merah yang dapat saya tarik adalah bahwa bangsa ini perlu kebangkitan yang cepat dan bersifat ekstrem, tidak hanya itu, sebagai negara yang sempat menguasai Asia Tenggara maka sudah seharusnya Indonesia melakukan suatu penaklukkan kembali, saya percaya spirit historis seperti itu, akan mampu membangkitkan bangsa yang seolah tertidur ini. Pemikiran-pemikiran ini semakin mendekatkan saya pada faham Fasisme-nya Mussolini maupun NAZI-nya Adolf Hitler. Perjalanan hidup pun berlanjut, takdir Tuhan menyatakan aku tidak mengenyam pendidikan agama secara reguler, 2 kesempatan saat lulus SD dan lulus SMP tidak dapat diraih, bukan karena saya tidak memiliki kemampuan tapi saya tidak mendapat kesempatan. selepas SMA saya menggeluti bidang teknik yang menurut saya adalah kebutuhan paling mendesak bagi bangsa ini, meski kemudian saya tergoda mengikuti ujian ulang untuk mengambil disiplin ilmu politik, saya lolos namun kemudian berfikir ulang dan menetapkan kebulatan hati untuk bertahan di bidang Teknik.

Disini di kampus biru, saya mendapat banyak pengalaman dan pencerahan tentang politik, kampus teknik yang aneh memang. beberapa poin yang menjadi pencerahan bagi saya adalah :
1. Setiap Orang Memiliki Fungsinya
2. Kebenaran Adalah Relatif dan Tidak Bersifat Mutlak
meski begitu hal ini tidak menjadikan suatu pernyataan mutlak juga, sebagai orang yang beragama dan berlandaskan pada agama, saya percaya bahwa kebenaran itu sebenarnya mutlak, tinggal bagaimana kita mengolah dan menyajikannya. ini semua masalah opini publik.

Hari ini saya membaca koleksi buku lama Ayah saya, luar biasa! Judulnya Islam dan Kekuasaan karya Edward Mortimer, saya menemukan banyak missing link yang selama ini saya cari karena tak adanya pengajaran di sekolah yang menyampaikan tentang perkembangan Islam di zaman pertengahan, seolah-olah Islam berjaya dan kemudian lenyap ditelan bumi hingga kini menjadi pesakitan. Saudara-saudara perlu kita ketahui bahwa kegelisahan umat muslim telah terjadi sejak lama, keinginan untuk berubah begitu terasa sejak berabad-abad lalu, namun berbagai macam bentuk revolusi belum juga berakhir, singkat cerita sejarah-sejarah ini begitu membuat saya terkagum-kagum, seolah saya bisa merasakan keadaan dimana revolusi itu terjadi, dari buku tersebut saya menemukan berbagai bentuk pemikiran Islam yang telah ada dan melihat kondisi diri saya sekarang ini. karena saya bukan seorang yang termasuk golongan berpendidikan agama, maka saya lebih tepat (menurut saya sendiri) diberi label sebagai Sekuler Nasionalis yang memiliki ketertarikan di bidang agama dan memiliki impian pendekatan Totaliter terhadap bangsa ini.

Pada intinya saya mendapatkan kesimpulan dimana bahwa pada saat ini saya adalah orang yang memiliki kecenderungan Sekuler seperti Mustafa Kemal Ataturk namun pemukiran saya juga mungkin serupa dengan Maududi dari Pakistan, entahlah ini hanya suatu Fase, mungkin sekarang saya seperti ini, namun esok mungkin tidak, teruslah mencari Ilmu dan berdo'a agar mendapat bimbinganNya, Bismillah :)


Saturday, September 1, 2012

Mama

Belakangan ini sering sekali kudengar ibu menangis, ia begitu sedih karena tak ada lagi yang menemaninya, anak-anaknya kini kian besar, Putri Sulungnya telah hijrah ke australia, mengadu nasib sebagai akademisi, Putranya yang paling besar kini kuliah di Institut Teknik nan jauh disana, niatnya merantau dan keinginannya untuk terlepas dari kebergantungan pada siapapun mengantarkannya meninggalkan rumah dengan hati yang teguh, putra bungsunya lah harapan terakhir Ibu, dia telah dilepas sejak lulus SD, dididik di pesantren dengan harapan agar ia bisa menjadi pemuka agama, menjadi tumpuan harapan baru setelah sang kakak laki-lakinya nampaknya tak mampu dan lagipula tak memiliki kesempatan untuk menjadi pemuka agama yang benar-benar hebat.

akhirnya sang adik yang telah diterima di SMA terkemuka di kota tempat ia dibesarkan harus rela mencoba peruntungan di gontor, sang Ibu pun berusaha mengikhlashkan kesendiriannya demi melihat putra bungsunya menjadi Ulama, meski ia seringkali menangis...

---

singkat cerita si bungsu tak bisa menembus seleksi di gontor seperti yang diharapkan ia hanya mampu masuk di gontor 2 dari yang di targetkan di gontor 1, tapi selalu ada hikmahnya, itu berarti sang ibu kini punya teman di rumah, si bungsu tetap bisa jadi ulama entah bagaimana caranya, ia telah mengucapkan janjinya untuk tak lagi mengecewakan keluarga, si kakak laki-laki kemudian menyadari bahwa ia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tak lagi menitipkan harapannya yang telah pupus ke pundak kecil adiknya, lebih baik kembali menyusun puing-puing mimpinya yang telah luluh lantak, ia harus mampu hidup untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang-orang yang ia cintai, si Sulung untuk sementara akan menjadi contoh dan bahan didik bagi adik-adiknya, cerita-cerita kesuksesannya yang menyilaukan akan selalu memacu adiknya untuk berlari menuju tujuan lebih kencang.,,

---

aku, Putra Tertua akan diamanahi tanggung jawab oleh orangtuaku untuk menjadi pemimpin keluarga nantinya, pesan ibuku adalah untuk menyekolahkan adikku, jangan sampai kisah pahit ibuku semasa muda terulang kembali.

Ibu, aku perlu dorongan semangat, beban ini tak akan memberatkanku, kan ku ubah beban yang layaknya air berat ini untuk mengisi reaktor energi dalam jiwaku, dan menjadi potensi energi yang besar. dadaku membara mengingat detik ini, mengingat cerita yang selalu disampaikan engkau atau paman semasa aku kecil, tentang kehidupan yang keras, tentang perjuangan yang pelik.

kini kan kutulis ceritaku sendiri, kan kuukir namaku dengan tinta emas, kan kulewati pencapaianmu, pencapaian ayah, pencapaian keluarga ini. kini aku lah yang akan menapaki jalanku sendiri, aku tak ingin mengecewakanmu,  tidak juga ayah dan semua orang yang aku sayangi :)

Tulis! (2)

ok, just be myself! i'm a realistic man!
you dare to dream you dare to upset!

list dulu rasa takut terbesar lu!
1. gue benci merasa ga bisa ngelakuin apa-apa
2. gue takut banget jadi orang yang terlupakan
3. gue takut banget kalo gue ga punya siapapun di samping gue

ya intinya muter-muter bahwa hal yang bikin gue takut yaitu kekecewaan dari interaksi dengan orang lain, makanya gue termasuk orang yang cenderung main aman. gue takut ngelukain org lain. tp gue sadar sekarang, gue harus yakin dengan apa yang gue lakuin! mintalah pada Allah SWT agar diberi petunjuk ke jalan yang lurus, perjuangan pasti ada resikonya! that's right! BERGANTUNGLAH HANYA PADA YANG MAHA KUASA

BISMILLAH :)

Tulis!

Gue punya obsesi! Ga banyak orang yang tau...
Well gue tulis disini juga karena ga banyak yang baca kayanya, sooo it's safe for me :p
recently i read a book, it told me to write all of my obsession, all of my fear, and let me know who am i.
not a bad idea right??

ok do, kita list obsesi loe dulul! ok, gue punya obsesi terhadap penaklukkan! epic story like NAZI, FASCIST, yeah something like that. tapi ga ada yang lebih keren daripada penaklukkan oleh Rasulullah SAW dan juga kisah penaklukkan konstantinopel! i have a big dream about majapahit reborn :D suatu ketika saya pernah ikut presentasi dimana di tahun 2030 Indonesia akan menjadi salah satu negara terbesar di DUNIA!!! aamiin :) penaklukkan juga berkaitan dengan superioritas hmm disamping itu gue juga terobsesi oleh invensi tentang benda-benda luar biasa tentang benda benda yang berkekuatan besar, indah, atau bermanfaat, ada lagi! obsesi untuk menemukan pendamping hidup! ya belahan jiwa, seseorang yang sempurna, seorang wanita yang sempurna di mata gue yang nantinya akan menjadi sumber energi tak terbatas dan juga akan menjadi pendamping tumbuh-kembangnya darah danging gue :3 hahai i'm normal right.

oke kalo ditarik benang merahnya maka semua bisa diringkas dalam satu kata! superioritas dan dominasi! bercirikan penaklukkan yang didukung alat yang perlu diinvensi, dan juga perlu sumber energi, selain itu gue juga harus mampu mempengaruhi orang lain. bisa diwujudkan dengan menjadi orang yang bisa dipercaya, (cerdas, tegas, tangguh, dan kuat)... jadi inget pelajaran SD tentang sifat nabi (sidiq, amanah, fathonah, tabligh) kurang lebih kita harus mampu mencontoh seperti beliau.

ya darisana gue bisa nentuin target! ga perlu malu untuk bermimpi! gue udah terlalu lama malu untuk bermimpi, sifat realistis yang membuat gue jadi orang yang terdengar sangat pesimis. kali ini bakal gue cantolin harapan setinggi langit! biarin org ketawa! gue juga bakal ketawa kok liatnya haha :))

target gue : 1. Jadi Kahima
                  2.  IPS 4,00
                  3. Tulis Buku n Artikel
                  4. menjadi muslim yang kuat
                  5. menghafal Juz 30 seluruhnya
                  6. AMAL YAUMI!!! 
target diurut dari yang paling akhir akan dicapai, yang paling bawah berarti fondasinya!!!

Bismillah, Ya Allah kabulkanlah bila ini baik untukku, jika tidak maka sesungguhnya engkau lebih mengetahui yang terbaik bagi hambamu ini :)


Thursday, August 2, 2012

FUCK LOGIC

Fuck Logic

kisah si A dan si B yang bilangnya saling suka dan kondisinya LDR

CASE 1
someday (sekalinya ketemuan)
A: kamu kok maen hp terus sih? -,-"
B: ini lagi bales sms ah... ._.

another day (lagi jauh2an)
A: kamu kok lama bls smsny? -,-"
B: maaf lagi sibuk ama temen nih ._.
A: FFFFFFUUUUUUUUU *memendam kesal dalam hati

CASE 2
someday (ada kesempatan ketemuan)
A: ketemuan yuk
B: aduh maaf ga bisa aku sibuk blablabla

another day (kesempatan itu ga diambil ama si B)
B: eh aku lagi main lo ama temen blablabla
A: oh, pasti asik deh ya? *dalam hati : jadi kamu sibuk sama org yang ketemu sama kamu tiap hari ya?

CASE 3
someday (si A udah kelewat emosi)
A: maaf aku gabisa jalanin ini lagi dengen kamu
B: apa? maksud kamu apa? kenapa gitu ih?
A: blablabla <=ngungkapin semua alasan
B: maaf maaf aku salah mudah2an ga aku ulangin lagi
A: hmm iya deh *luluh

*kalo udah sayang gimana lagi???

FUCK LOGIC BRO!